Berbagi tak pernah rugi

Selamat datang di blog saya yang sederhana ini, di blog ini saya tuangkan apa2 yang menjadi kebiasaan saya, pengalaman saya, hobi saya dll yang mungkin sepele tetapi mungkin bisa membawa manfaat bagi anda yang membacanya. Saya berharap blog ini bisa mencerminkan prinsip saya yaitu "Berbagi Tak pernah Rugi" . Dan bagi pembaca yang punya uneg - uneg atau kritik silahkan beri komentar, selain sebagai masukan juga bisa sebagai koreksi diri bagi saya. Atau bagi yang mau mengcopy artikel saya silahkan saja tapi jangan lupa lampirkan sumbernya ya..
Sehubungan banyaknya pertanyaan via SMS yang masuk dan cukup menyedot pulsa, mohon kalau ada pertanyaan bisa menelpon ke 082254621401 atau via komentar. Untuk selanjutnya terpaksa saya tidak melayani SMS



Rabu, 25 Desember 2013

Menanam Seledri Secara Hidroponik

Salam hijau buat para pembaca sekalian…
Pada kesempatan kali ini saya akan menuangkan tulisan tentang bertanam seledri secara hidroponik yang sedang saya jalani.
Menanam seledri hidroponik pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan menanam sayuran lain. Tapi biasanya keluhan dari teman – teman yang mencoba bertanam seledri adalah sulitnya waktu penyemaian. Padahal kalau kita tahu apa yang harus dilakukan, sebetulnya tidaklah terlalu sulit.
Tapi untuk lebih mudahnya, saya akan menguraikannya secara berurutan dan mudah mudahan pembaca bisa mudah memahami.

Tahap penyemaian.

Sebelum tanaman ditanam pada rak hidroponik, sebaiknya dilakukan penyemaian terlebih dahulu. Pada proses penyemaian ini saya menggunakan arang sekam dicampur cocopeat karena selain murah, mudah didapat di daerah saya juga mudah dalam proses pindah tanam (akar tidak rusak).
Bahan yang diperlukan adalah :
-        Pot  untuk penyemaian
-        Arang sekam + cocopeat
-        Benih seledri
-        Plastik hitam
Caranya :
-        Masukkan arang sekam + cocopeat  ke pot
-        Taburkan benih secara merata di atas arang sekam + cocopeat.
-        Taburkan lagi arang sekam untuk menutupi benih cukup tipis-tipis saja.
-        Siram benih dengan menggunakan sprayer agar media tidak terhambur kemana mana.
-        Tutup dengan plastic hitam selama seminggu. Tutup plastic dubuka setiap 2 hari untuk melihat kelembaban media. Media jangan sampai kekeringan.
-        Setelah seminggu, buka tutup plastik. Biasanya benih sudah tumbuh.
-        Bibit dikenakan cahaya matahari (jangan terlalu terik)
-     Lakukan penyiraman sampai  5- 6 minggu dan tanaman siap pindah tanam. Karena bibit seledri sangat lembut dan mudah rusak, sebaiknya penyiraman jangan diguyurkan ke bibit. Untuk penyiraman biasanya saya gunakan ember/baskom diisi air, kemudian pot yang berisi bibit saya masukkan ke dalam ember/baskom tersebut sampai seluruh media tanam basah. Selanjutnya pot diangkat dan ditiriskan.


Begini cara saya menyiram bibit seledri agar tidak rusak


Tahap pindah tanam.
Setelah bibit selada berumur 5 - 6 minggu biasanya sudah berdaun 3-4 dan siap pindah tanam. Untuk pindah tanam agar bibit tidak rusak harus dilakukan secara hati – hati. Dibawah ini akan saya uraikan cara pindah tanam yang biasa saya lakukan.
Alat/bahan yang diperlukan :
-        Netpot (saya pakai pipa 1” dan gelas plastic yang sudah dilubangi bagian samping dan bawahnya)
-        Kain flannel untuk sumbu jika diperlukan.
-        Spons yang sudah dipotong – potong ukuran 2.5cm x 2.5cm x 2cm
-        Arang sekam + cocopeat
-        Baskom/ember yang sudah diisi air bersih.
Caranya :
-        Ambil bibit beserta medianya sekalian. (jangan dicabut tapi ambil bibit dan media sekaligus)
-        Masukkan bibit beserta media ke dalam baskom/ember yang sudah diisi air
-        Goyangkan bibit dengan pelan – pelan. Media akan tenggelam dan bibit akan mengapung. Biasanya dengan cara ini akar tidak rusak dan akar bersih dari media yang menempel.
-        Jika bibit bergerombol, pisahkan bibit dengan hari – hati (pemisahan tetap didalam air)
-        Setelah bibit terpisah, jika pot pakai pipa 1”
§  jepit bibit dengan spons yang telah tersedia. Jika ada bibit yang akarnya belum bisa menyentuh air nutrisi bisa ditambahkan sumbu dengan kain flannel.
§  Masukkan spons yang telah berisi bibit ke dalam netpot.
§  Masukkan netpot ke lubang – lubang tanam yang ada dalam rak paralon yang sebelumnya sudah diisi air nutrisi.
-        Jika menggunakan gelas plastic,
§  Pasang sumbu kain flannel pada gelas melalui lubang pada bagian bawah gelas yang sudah kita buat sebelumnya. Panjang sumbu disesuaikan yang penting sumbu bisa menyentuh air nutrisi dan juga bisa untuk menempel akar.
§  Masukkan arang sekam + cocopeat ke dalam gelas hingga 1/3 gelas.
§  Tanam bibit seledri (1 bibit saja) dengan cara akar menyentuh sumbu.
§  Masukkan lagi arang sekam + cocopeat ke dalam gelas untuk menutup akar dan batang bibit sampai hampir memenuhi gelas sehingga bibit seledri bisa berdiri dengan kuat.
§  Siram dengan air agar media tanam dan sumbu basah. Hal ini untuk memancing agar sumbu bisa menyerap air nutrisi karena sumbu yang kering tidak bisa menyerap air.
§  Masukkan gelas plastic ke dalam lubang – lubang pipa yang sudah disiapkan.
-        Isikan/alirkan air nutrisi ke dalam rak pipa secara berkala.


contoh penanaman dengan gelas plastik

contoh penanaman dengan net pot pipa 1" atau kepala botol plastik


Tahap pembesaran

Setelah bibit kita pindahkan ke dalam rak, tugas selanjutnya adalah melakukan perawatan untuk pembesaran sampai masa panen.
Dalam system hidroponik perawatan tanaman adalah sangat mudah. Jika menggunakan system air menggenang, perawatan hanyalah memperhatikan ketersediaan air nutrisi yang ada di dalam pipa paralon tempat penanaman. Biasanya saya cek 3 hari sekali. Ketika air mau habis tinggal saya tambahkan lagi.
Jika menggunakan system air mengalir, perawatan hanyalah mengalirkan air secara rutin. Saat ini saya mengalirkan air sehari 3 kali yaitu pagi, siang dan sore.
Pada penanaman seledri ini saya menggunakan system air menggenang dan system air mengalir.
Untuk system air menggenang yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai batang dan akar terendam keseluruhan, air nutrisi cukup sebatas 1/3 sampai 1.2 diameter pipa saja agar masih ada ruang untuk akar dan akar tidak terendam semua.
Nutrisi yang saya gunakan untuk penanaman seledri ini menggunakan nutrisi ABmix.

Tanaman seledri dalam tahap pembesaran


Hama
Sampai saat ini hama yang menyerang tanaman seledri saya biasanya aphids yaitu sejenis kutu yang menempel pada batang dan bagian bawah daun. Kutu ini menyerap sari makanan dan merupakan vector bagi penyakit yang lain. Untuk membasmi hama ini saya memakai pestisida nabati bikinan sendiri.


Contoh hama yang menyerang pohon seledri
Adapun bahan pembuatan pestisida nabati tersebut antara lain :
1.     Bawang putih 3 – 5 siung
2.     Segenggam tembakau (4 batang rokok kretek tanpa filter)
3.     Jahe sebesar ibu jari
4.     Botol bekas kemasan air mineral 600 ml
Cara pembuatan :
1.     Gerus/tumbuk bawang putih sampai hancur
2.     Gerus/tumbuk jahe sampai hancur
3.     Masukkan gerusan bawang putih, jahe dan tembakau ke dalam botol plastic bekas air mineral.
4.     Masukkan air sampai hampir memenuhi botol
5.     Diamkan sehari semalam dan larutan siap digunakan.
Cara pemakaian :
1.     Ambil air larutan pestisida nabati yang telah disaring sebanyak 5 – 10 ml.
2.     Campurkan air larutan tersebut dengan 1 liter air bersih.
3.     Tambahkan 1 sendok sabun pencuci piring cair (sun***ht/mama***on)
4.     Semprotkan pada tanaman yang terserang hama.

Dosis pemakaian harus diperhatikan karena jika kebanyakan justru tanaman juga akan ikut mati. Pestisida ini biasa juga saya pakai untuk menyemprot tanaman cabai yang terserang aphids, thrips atau kutu kebul.
Sisa larutan pestisida yang tidak terpakai jangan dibuang karena masih bisa dipakai sampai beberapa bulan ke depan.


Panen

Biasanya setelah 1 – 1.5 bulan setelah pindah tanam, seledri sudah bisa dipanen. Saya melakukan pemanenan dengan memetik daun – daun yang sudah tua. Pemanenan bisa diulang setiap 5-6 hari sekali. Untuk kapan berakhir masa panen saya belum tahu karena sudah 2 bulan lebih ini saya panen rutin dan sampai sekarang seledri masih produktif.

Seledri hasil panen siap diikat



Minggu, 08 Desember 2013

Bertanam Selada Secara Hidroponik

Tak terasa sudah 6 bulan saya nggak update blog karena lebih banyak berkutat dengan grup bercocok tanam di FB.
Kali ini saya akan menuangkan tulisan tentang bertanam selada secara hidroponik. Sebetulnya untuk saat ini seladanya juga sudah habis dan sudah diganti tanaman yang lain. Tapi saya kira tidak ada salahnya kalau tulisan tentang selada ini saya tuangkan dalam blog sebagai bentuk pengalaman saya dalam menanam selada hidroponik.
Menanam selada hidroponik pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan menanam sayuran lain. Yang perlu diperhatikan terutama adalah kepekatan larutan nutrisinya. Hal ini karena tiap jenis sayuran memerlukan kepekatan nutrisi yang berbeda – beda. Sebagai contoh kebutuhan nutrisi dari tiap sayuran terlihat dari table di bawah ini.

Back to topic, untuk lebih detail apa – apa yang saya lakukan untuk menanam selada hidroponik ini, saya akan menguraikannya secara berurutan dan mudah mudahan pembaca bisa mudah memahami.
Tahap penyemaian.
Sebelum tanaman ditanam pada rak hidroponik, sebaiknya dilakukan penyemaian terlebih dahulu. Pada proses penyemaian ini saya menggunakan arang sekam karena selain murah, mudah didapat di daerah saya juga mudah dalam proses pindah tanam (akar tidak rusak).
Bahan yang diperlukan adalah :
-        Baskom bekas untuk penyemaian
-        Arang sekam
-        Benih selada
-        Plastik hitam
Caranya :
-        Masukkan arang ke baskom yang telah dilubangi kecil – kecil bagian bawahnya
-        Taburkan benih secara merata di atas arang sekam.
-        Taburkan lagi arang sekam untuk menutupi benih cukup tipis-tipis saja.
-        Siram benih dengan menggunakan sprayer agar media tidak terhambur kemana mana.
-        Tutup dengan plastic hitam selama dua hari.
-        Setelah 2 hari, buka tutup plastic. Biasanya benih sudah tumbuh.
-        Bibit dikenakan cahaya matahari (jangan terlalu terik)
-        Lakukan penyiraman rutin sampai 2 minggu dan tanaman siap pindah tanam.

Tahap pindah tanam.
Setelah bibit selada berumur 2 minggu biasanya sudah berdaun lengkap dan siap pindah tanam. Untuk pindah tanam agar bibit tidak rusak harus dilakukan secara hati – hati. Dibawah ini akan saya uraikan cara pindah tanam yang biasa saya lakukan.
Alat/bahan yang diperlukan :
-        Netpot (saya pakai pipa 1” atau kepala botol plastic)
-        Kain flannel untuk sumbu jika diperlukan.
-        Spons yang sudah dipotong – potong ukuran 2.5cm x 2.5cm x 2cm
-        Baskom/ember yang sudah diisi air bersih.
Caranya :
-        Ambil bibit besrta medianya sekalian. (jangan dicabut tapi ambil bibit dan media sekaligus)
-        Masukkan bibit besrta media ke dalam baskom/ember yang sudah diisi air
-        Goyangkan bibit dengan pelan – pelan. Media akan tenggelam dan bibit akan mengapung. Biasanya dengan cara ini akar tidak rusak dan akar bersih dari media yang menempel.
-        Jika bibit bergerombol, pisahkan bibit dengan hari – hati (pemisahan tetap didalam air)
-        Setelah bibit terpisah, jepit bibit dengan spons yang telah tersedia. Untuk selada sebaiknya 2 bibit satu spons agar nantinya selada berbentuk crop kompak. Jika ada bibit yang akarnya belum bisa menyentuh air nutrisi bisa ditambahkan sumbu dengan kain flannel.
-        Masukkan spons yang telah berisi bibit ke dalam netpot.
-        Masukkan netpot ke lubang – lubang tanam yang ada dalam rak paralon yang sebelumnya sudah diisi air nutrisi.
Tahap pembesaran
Setelah bibit kita pindahkan ke dalam rak, tugas selanjutnya adalah melakukan perawatan untuk pembesaran sampai masa panen.
Dalam system hidroponik perawatan tanaman adalah sangat mudah. Karena saya bertanam masih memakai system air menggenang, jadi yang saya lakukan hanyalah memperhatikan ketersediaan air nutrisi yang ada di dalam pipa paralon tempat penanaman. Biasanya saya cek 3 hari sekali. Ketika air mau habis tinggal saya tambahkan lagi.
Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai batang dan akar selada terendam keseluruhan, air nutrisi cukup sebatas 1/3 sampai 1/5 diameter pipa saja agar masih ada ruang untuk akar dan akar tidak terendam semua.
Biasanya setelah 25 – 30 hari setelah pindah tanam, selada siap dipanen.



Gambar tanaman seladaku


Pada saat praktek menanam selada ini saya menghabiskan air nutrisi sekitar 80 ltr untuk 156 lubang tanam terdiri dari 6 batang pipa 2.5”. Setiap lubang tanam diisi 2 bibit selada.

Kalau dikalkulasi secara ekonomi untuk di Bontang,

Biaya untuk buat Rak :
-        Pipa 2,5” 6 batang                              Rp. 240.000
-        Lbow 4 pcs                                         Rp.   24.000
-        T join 9 pcs                                         Rp.   54.000
Total                                                         Rp. 318.000

Harga pupuk
-        Pupuk ABmix 1 paket harga              Rp.   75.000
-        Ongkir                                                 Rp.   65.000
Total                                                         Rp. 140.000
Untuk pupuk 1 paket bisa jadi 1000 liter larutan nutrisi. Jadi harga 1 liter air nutrisi Rp. 140. Kebutuhan sampai panen 80 liter. Jadi biaya pupuk sampai panen = 80 liter x Rp. 140 = Rp. 11.200

Penjualan
1 ikat selada terdiri dari 2 pohon harga Rp. 4000 di pengepul. Hasil panen 156 ikat. Jadi hasil dari satu siklus penanaman : 156 x 4000 = Rp. 624.000

 Nah kalau untuk ngitung keuntungannya, tolong dihitung sendiri ya...

Rabu, 22 Mei 2013

Pot dari kepala botol plastic bekas air minum untuk bertanam hidroponik.


Bagi anda yang sudah biasa bertanam hidroponik pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah “net pot” atau pot – pot kecil yang bagian bawah dan sampingnya berlubang yang berfungsi untuk jalan keluarnya akar supaya bisa menyentuh air nutrisi untuk pertumbuhan tanaman. Biarpun harganya murah, tetapi ketika perlu dalam jumlah banyak jadinya ya perlu dana banyak juga.

Contoh gambar net pot

Saya selaku orang yang suka hidroponik dan tinggal di kota kecil dimana sarana hidroponik susah dicari harus berpikir kira – kira apa yang bisa saya gunakan sebagai alternative pengganti ketika barang yang saya perlukan susah didapat.

Di kantor saya setiap karyawan mendapat jatah aqua botol 1 dus per bulan. Di departemen saya sendiri saya punya anak buah 32 orang. Jadi dalam 1 hari pasti ada sampah botol minimal 33 botol.

Akhirnya saya berpikir kenapa botol – botol bekas ini tidak saya manfaatkan saja. Kemudian botol botol bekas itupun saya kumpulkan (saya minta tolong OB untuk ngumpulin) dan saya potongin seperti gambar di bawah.
Kepala botol plastik hasil mulung

Dan setelah sampai di rumah langsung saya terapkan pada tanaman hidroponik saya. Hasilnya…sim salabim….jadi seperti di bawah ini
 5 hari setelah pindah tanam

Selada siap panen dan siap santap

Contoh pada kangkung




Sekali lagi ternyata hidroponik itu nggak semahal bayangan kita..

Rabu, 17 April 2013

Edisi Khusus Cabai (3) : Cabai Trinidad Scorpion


Ini adalah salah satu pemegang rekor cabai terpedas di dunia dengan tingkat kepedasan 1,463,700 SHU atau hampir 1.5 juta SHU. Anda bisa bayangkan kira – kira seperti apa pedasnya. Kalau kita biasa makan cabai rawit hijau, bayangkan saja pedasnya sekitar 20x lipatnya. Saya sendiri nggak yakin akan memakan cabai ini seandainya nanti sudah berbuah. Saya tanam cabai ini karena factor hobi sehingga rasanya ada kepuasan tersendiri kalau koleksi cabai saya semakin lengkap.

Saya beli benih cabai ini bersamaan dengan pembelian benih cabai Red Peter dan Bhut Jolokia. Dengan perlakuan perendaman air bawang merah selama semalam, benih sprout dalam waktu 7 hari. Benih sprout/tunas memang tidak dalam waktu bersamaan tetapi ada juga yang sprout di hari ke 8 maupun hari ke 9.

Untuk penampakan saat ini belum begitu menarik karena tanaman masih kecil, tapi harapan saya bulan depan sudah mulai bisa kelihatan cantik menghijau. Semoga saja tidak terserang hama.

Bibit cabai saat awal tunas


 bibit cabai 1.5 bulan berikutnya (18/4/2013)

Minggu, 07 April 2013

Panen kangkung dan bayam hidroponik


Selain hidroponik kit yang saya tuangkan dalam blog ini sebetulnya saya masih ada 1 set rak hidroponik yang lain, dimana pad arak yang ini saya tanam 3 macam tanaman antara lain kangkung di rak paling atas, kemudian dibawahnya saya tanam bayam merah dan rak yang paling bawah saya tanam pakchoy hijau.

Tak terasa 22 hari sudah usia tanaman di hidroponik kit versi 2 ini pas pada hari Minggu kemarin. Pada usia tersebut ternyata kangkung dan bayam sudah setinggi 30 cm dan siap panen. Melihat tanaman sudah setinggi itu istri saya bilang sebaiknya segera dipetik saja untuk dibikin “Kapurung” (makanan khas orang Sulawesi/Bugis). Tanpa pikir panjang seluruh tanaman kangkung dan bayam saya panen. Pemanenan dengan cara saya potong, tujuannya supaya tanaman tunas lagi dengan pertumbuhan yang lebih cepat. Yang lalu ketika saya tanam kangkung dengan media tanah, saat panen saya potong dan tunasnya pertumbuhannya kurang bagus. Nah dengan metode hidroponik ini asya jadi penasaran hasilnya apakah akan sesuai harapan saya.

Kembali ke panen kangkung, ternyata hasilnya cukup banyak. Setelah dimasak bisa dimakan bareng tetangga dan keluarga kakak/adik ipar yang lagi pada ngumpul dirumah. Rasanya?? Pokoke maknyuss..sayuran segar dari kebun sendiri dan ada embel – embel sayuran hidroponik lagi.  Meskipun masakannya menu tradisional, tapi yang dimasak sayuran yang biasa dibeli orang – orang kaya ha..ha..ha..


Rak hidroponik di awal penyemaian

Kangkung dan bayam menjelang panen

Tanaman tampak samping

Kangkung sebelum dieksekusi

Kangkung bersih dan segar hasil panen

Kangkung pasca eksekusi

Bayam pasca eksekusi

Minggu, 31 Maret 2013

Merasakan sensasi pedasnya cabai habanero.

Habanero coklat
Tak terasa cabai habanero yang kutanam beberapa waktu yang lalu sekarang buahnya sudah mulai tua dan sudah keluar warna aslinya. Yang habanero orange sudah memunculkan warna oranyenya dan habanero coklat juga sudah muncul semburat coklatnya.

Sebagai orang yang menanam rasanya nggak afdhol kalau nggak coba merasakan pedasnya cabai yang saya tanam ini. Makanya iseng – iseng saya petik habanero orange yang sudah tua untuk bikin Indomie Kari Ayam (bukan iklan lho ya, btw saya suka sama mie ini). Untuk coba – coba saya cukup masukkan satu buah cabai yang sudah diiris – iris ke dalam mie. Hasilnya untuk satu porsi mie, satu buah cabai sudah cukup buat saya. Padahal biasanya kalau pakai cabai rawit hijau saya perlu 5 – 9 buah cabai. Berarti untuk ke depannya kalau mau buat mie cukup saya kasih cabai habanero orange satu buah saja.

Mie kesukaanku
Besoknya saya penasaran dengan cabai habanero yang coklat. Dari kerut – kerut kulit dan ukuran buah yang lebih besar, sebetulnya saya sudah agak ngeri membayangkan pedasnya. Tapi rasa penasaran harus terobati. Makanya saya coba masak mie lagi dengan merek dan bumbu yang sama, bedanya Cuma jenis cabai yang digunakan. Setelah mie dan sayuran hijau saya rebus dan tiriskan, selanjutnya saya panaskan lagi air untuk kuah mie. Air rebusan sekalian saya kasih potongan cabai habanero coklat. Hasilnya, ketika air mulai mendidih dan uap mulai menyebar, hidung mulai bersin – bersin karena aroma pedas yang menyengat. Untuk jaga – jaga supaya tidak mie tidak mubadzir, sebelum air saya tuang ke mangkok mie saya coba rasakan dulu. Hasilnya “mak nyosss” mulut rasanya kayak terbakar. Saya masih belum percaya pedasnya, makanya saya coba sekali lagi dengan ngetes satu sendok penuh. Hasilnya “lebih mak nyosss” lagi. Akhirnya daripada mie mubadzir, mending air rebusan cabai habaneronya saya buang saja kemudian saya petik lagi cabai rawit biasa 7 buah dan saya rebus bersama air kuah.
Kesimpulannya untuk cabai habanero orange saya masih kuat, tapi untuk cabai habanero coklat rasanya “ampuuunnn gak kuat pedasnya”.
Akhirnya saya berpikir, kalau untuk habanero coklat saja saya nggak kuat apalagi kalau cabai Bhut Jolokia, Trinidad Scorpion bahkan yang Trinidad Scorpion Morouga yang pedasnya berkali – kali lipat daripada cabai Habanero. Padahal ke tiga jenis cabai tersebut juga saya tanam dan sekarang sedang dalam masa pertumbuhan. Mungkin cabai – cabai super pedasku cukup hanya sebagi koleksi saja.